Energi Dalam Kertas

Suatu ketika di penghujung bulan September tahun 2011. Saat itu  saya sedang mempersiapkan diri untuk seminar dan sidang tugas sarjana saya di program studi Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung di bawah bimbingan Prof. Djoko Suharto. Pak Djoko mengatakan bahwa beliau menginginkan adanya diskusi tanya jawab personal dengan setiap mahasiswa bimbingan beliau sebelum sidang resmi tugas akhir dilaksanakan. Tujuan dari diskusi ini adalah untuk menguji pengetahuan mahasiswa akan beberapa konsep dasar ilmu teknik mesin.

Waktu untuk saya melakukan diskusi dengan beliau pun tiba. Beliau memulai diskusi dengan bertanya seputar hal dasar yang berkaitan dengan teknik material, berlanjut ke bidang teknik produksi, hingga konversi energi. Tidak semua pertanyaan beliau bisa saya jawab dengan meyakinkan karena beberapa kali saya mendapati diri saya ragu-ragu untuk menjawab. Seperti pertanyaan sederhana “Apa itu fluida? coba kaitkan dengan tegangan geser”. Hal tersebut menandakan bahwa saya sebenarnya belum paham seratus persen mengenai beberapa konsep di bidang teknik mesin. Saya pun kemudian menganggap ini sebagai suatu proses pembelajaran untuk lebih baik ke depannya.

Dari sekian pertanyaan yang beliau lontarkan, akhirnya beliau memberikan pertanyaan kepada saya terkait hukum kekekalan energi. Dalil hukum kekekalan energi menyebutkan bahwa energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, namun energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. pengetahuan mengenai jenis-jenis energi telah saya peroleh sejak saya duduk di bangku sekolah dasar, seperti energi kinetik, potensial, mekanik, listrik, kimia, panas, dan lain-lain. Beberapa contoh sederhana perubahan bentuk energi antara lain makanan dalam tubuh manusia (energi kimia – energi mekanik), turbin air (energi mekanik – energi listrik), . Setelah bertanya tentang jenis-jenis energi, Pak Djoko kemudian mencoba kembali menguji pemahaman saya dengan memberikan pertanyaan yang percakapannya terekam sebagai berikut:

Pak Djoko: “Kamu yakin hukum kekekalan energi itu selalu berlaku di kehidupan ini?”

Saya: “Iya Pak (sambil ragu), kan memang dalilnya sudah begitu. Kecuali jika kita berbicara hal yang sudah mencakup teori Einstein.”

(Lalu Pak Djoko mengambil secarik kertas yang ada di dekatnya)

Pak Djoko: “Ini ada kertas, saya robek (Beliau merobek kertas yang diambilnya). Coba kamu jelaskan ketika kertas ini sudah robek seperti ini bagaimana perubahan bentuk energi nya sebelum dan sesudah robek?”

Yak, pertanyaan beliau ini bisa dikatakan cukup ‘iseng’ namun sangat konseptual karena contoh kasus di atas sangat umum terjadi di kehidupan sehari-hari. Saya pun kemudian mencoba menjawab. untuk merobek kertas, manusia jelas melakukannya dengan energi mekanik, namun setelah kertas itu robek jujur saja ketika itu saya tidak ada bayangan sama sekali untuk menjawab. Beliau pun menyuruh saya untuk merenungkan pertanyaan tersebut dan mencoba mencari jawabannya hingga saat saya sidang tugas akhir nantinya.

Hingga sidang tugas akhir saya selesai (yang berujung pada kelulusan saya. Alhamdulillah), jawaban dari pertanyaan tentang kertas tersebut belum bisa saya dapatkan. Akhirnya saya bertanya langsung kepada Pak Djoko untuk mengetahui jawabannya. Beliau pun menjawab “Energi Dalam”.

Menegakkan Sandaran Kursi serta Melipat Meja Saat Duduk di Pesawat yang Hendak Take-Off & Landing

Jika Anda pernah menumpang pesawat terbang komersial di salah satu maskapai, Anda mungkin ingat akan sesuatu hal yang rutin dilakukan pada tiap penerbangan yaitu saat para awak kabin memberikan informasi mengenai prosedur keselamatan ketika pesawat akan tinggal landas (take off) dan mendarat (landing). Di samping mengenakan sabuk keselamatan, salah satu prosedur keselamatan yang wajib dilakukan oleh penumpang adalah menegakkan sandaran kursi dan melipat meja (tray table) baik saat hendak take off atau landing. Kemudian timbul pertanyaan, jika sandaran kursi tidak ditegakkan dan meja tidak dilipat apakah akan mempengaruhi kinerja pesawat? apakah bisa membahayakan pesawat? Kenyataannya adalah, jika tidak ada masalah pesawat tetap dapat meninggalkan dan juga menyentuh landasan biarpun prosedur tersebut tidak dilakukan.

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar incident dan accident yang melibatkan pesawat terbang terjadi pada fase lepas landas dan mendarat. Contoh kasus incident/accident yang beberapa kali terjadi adalah pesawat tergelincir (skids off) dari landasan pacu (runway). Saat terjadi hal seperti itu yang paling utama harus diperhatikan adalah keselamatan penumpang, dalam konteks ini adalah meminimalisir terjadinya cidera, luka, atau bahkan kematian serta sesegera mungkin mengeluarkan penumpang dari pesawat.

Prosedur keselamatan dibuat bukan tanpa maksud. Berkaca dari kasus di atas, suatu prosedur bisa jadi merupakan sebuah langkah yang bersifat preventif apabila suatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

Coba perhatikan contoh kasus melalui gambar di bawah ini.

Kursi Kabin Pesawat

Gambar di atas menunjukkan suasana kabin pesawat di mana ada penumpang pesawat sedang menggunakan laptop yang diletakkan di atas tray table dan ada penumpang lain yang bersantai sambil membaca dan mendengarkan musik.

Anggap terjadi skenario terburuk, yaitu pesawat mengalami pendaratan yang cukup keras (hard landing). Impak yang ditimbulkan akibat hard landing dapat berujung pada cedera atau luka. Pertama jika kursi penumpang tidak ditegakkan, penumpang tersebut berpotensi terpental ke depan dengan jarak yang cukup jauh. Kedua jika tray table tidak dilipat ke posisi semula, penumpang mungkin akan menderita cedera yang cukup parah akibat berbenturan dengan meja. Dengan menegakkan sandaran kursi dan melipat meja, cedera yang diderita penumpang tidak akan seburuk bila kedua prosedur tersebut tidak dilaksanakan seandainya penumpang mengalami cedera.

Manfaat utama menegakkan sandaran kursi dan melipat meja justru sangat terasa ketika proses evakuasi. Saat pesawat mengalami kecelakaan, evakuasi penumpang harus dilakukan dengan cepat. Proses evakuasi dimulai ketika penumpang mulai meninggalkan tempat duduk dan kemudian mencari pintu keluar darurat terdekat. Mari kita coba lihat kembali gambar suasana kabin di atas. Bayangkan saja jika saat evakuasi kursi di bagian depan disandarkan, penumpang di belakangnya akan terhambat untuk segera ke lorong karena jalur sempit yang terhalang kursi. Begitu pula jika tray table tidak dilipat, sudah pasti jalur menuju lorong akan terhalang meja. Penumpang yang duduk dekat lorong mungkin masih bisa keluar dengan cepat, namun penumpang yang duduk dekat jendela akan benar-benar terhambat untuk segera keluar.

Ditegakkan atau tidaknya sandaran kursi dan juga dilipat atau tidaknya tray table tidak akan mempengaruhi kinerja sistem pesawat ketika hendak take off dan landing, namun hal tersebut justru berperan saat pesawat mengalami accident yang mewajibkan dilakukannya evakuasi penumpang. Dengan menegakkan sandaran kursi dan melipat meja, ketika terjadi benturan yang cukup keras, penumpang dapat mengurangi risiko terjadinya cedera atau luka parah. Sedangkan saat harus dilaksanakan proses evakuasi, penumpang tidak akan menemui banyak kendala untuk segera meninggalkan tempat duduknya dan langsung menuju pintu keluar.

Mungkin ada beberapa penumpang yang terkadang mengabaikan demo prosedur keselamatan yang biasa diperagakan secara manual oleh para awak kabin atau ditayangkan dalam bentuk video. Bagi para pengguna jasa penerbangan hendaknya selalu peduli terhadap prosedur keselamatan. Setiap prosedur keselamatan memiliki fungsinya masing-masing. Penumpang harus sigap dalam menghadapi keadaan darurat bila suatu saat terjadi.

“Because, in an emergency, every single second counts.”

Analisis Insiden Senggolan dengan Sepeda Motor (Selasa 5/2/13)

Selasa (5/2/13) pagi, saya sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kampus. Cuaca pagi itu cukup baik, dengan sinar matahari yang tidak begitu terik namun cukup untuk menerangi hari. Rute perjalanan yang saya pilih adalah melewati jalan tol, masuk gerbang tol Pasir Koja dan keluar gerbang tol Pasteur. Di traffic light tol pasteur seperti biasa pada umumnya pada weekday pagi hari cukup padat namun tidak menimbukan kemacetan yang lama.

Insiden bermula ketika mobil saya berada di dekat U-Turn depan BTC. Karena banyaknya mobil yang hendak berbalik arah menuju fly-over Pasupati, saya yang berada di lajur tengah terpaksa menghentikan mobil saya menunggu beberapa mobil yang berbalik arah melintas untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Namun tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara benturan keras yang datang dari kiri mobil saya. Ternyata sebuah pengendara sepeda motor menyenggol spion kiri mobil saya hingga terlipat ke luar dan cover spion nya terlepas. Kemudian pengendara motor tersebut menatap ke arah saya melambaikan tangan dengan maksud meminta maaf dan selanjutnya pergi begitu saja seolah sedang terburu-buru. Saya yang sedikit kesal ketika itu membunyikan klakson berulang-ulang dengan maksud agar pengendara motor tersebut menepi sebagai bentuk pertanggung jawaban. Untungnya kaca spion kiri tersebut yang dilengkapi electric folder & control system tidak mengalami kerusakan fungsi. Karena saya mengetahui cover spion kiri mobil saya terlepas dan berpotensi membahayakan kendaraan lain, saya pun menepi ke kiri, memarkirkan dan mematikan mobil saya. Selanjutnya saya mencoba mengambil cover tersebut di tempat saat insiden tadi terjadi. Dengan agak sedikit nekat, saya pun berjalan ke tengah jalan untuk mengambil bagian cover spion sambil meminta maaf pada kendaraan yang melintas. Setelah cover tersebut berhasil saya ambil, saya kemudian melihat bahwa tepat di belakang titik lokasi jatuhnya cover spion ternyata terdapat lubang yang cukup dalam di permukaan jalan dan saya rasa lubang tersebut cukup membahayakan terutama bagi pengendara sepeda motor jika melaju kencang. Tak lama setelah itu saya kembali ke mobil. Untungnya cover spion masih dalam kondisi utuh tidak pecah sehingga dapat saya pasangkan kembali ke spion dengan mudah. Akhirnya saya pun melanjutkan kembali perjalanan saya ke kampus.

Mari coba sejenak kita renungkan dan analisis insiden tadi. Setelah melihat adanya lubang di jalan, yang saya pikirkan adalah untung saja pengendara motor tadi selamat tidak terjadi apa-apa. Sang pengendara motor pasti tidak sengaja menyenggol spion mobil saya karena bermaksud ingin menghindari lubang. Jalanan berlubang di kota Bandung sudah beberapa kali memakan korban baik hanya luka biasa hingga kematian. Sudah menjadi tanggung jawab pemerintah tentunya untuk mengatasi masalah jalanan berlubang ini. Untungnya beberapa hari kemudian lubang-lubang yang terdapat di sekitar U-Turn BTC telah ditambal dan diaspal sehingga lebih mulus daripada sebelumnya.

Sekarang kita melihat dari sisi pengendara sepeda motor. Dengan keadaan mobil saya saat itu sedang berhenti di lajur tengah, bunyi keras yang ditimbulkan akibat benturan mengindikasikan motor sedang melaju dengan kecepatan sedang antara 30-40 km/jam. Saya hanya berasumsi pengendara motor tersebut sedang terburu-buru sehingga dia pun berjalan di lajur tengah untuk mempercepat perjalanan. Namun dia terlambat menyadari adanya lubang di jalan sehingga dengan kecepatan seperti yang telah disebutkan dia tidak punya cukup waktu untuk memperlambat motornya. Pada akhirnya dia memilih untuk membelokkan motornya ke kanan dan konsekuensinya adalah menyenggol spion kiri mobil saya. Bila hal itu memang benar, hal yang bisa kita petik baik pengendara mobil maupun motor, cobalah untuk berjalan tidak terburu-buru mengejar waktu. Aturlah jam berangkat anda karena risiko kecelakaan cukup besar apabila kita sedang dalam keadaan terburu-buru. Bila memang tidak mungkin lagi untuk mengejar target waktu kedatangan, tidak usah mencari cara agar cepat sampai yang bisa saja membahayakan diri anda atau orang lain. Juga patuhi lah aturan dan tata cara berlalu lintas. Terkadang kemacetan dan kecelakaan timbul akibat ketidakdisiplinan.

Seberapa Aman Menggunakan Transportasi Udara?

Mencoba menerjemahkan salah satu isi dari artikel ‘Pilot’s Perspective’ yang ditulis Capt. Lim Khoy Hing pada majalah Travel 3 Sixty° (AirAsia In-flight Magazine) edisi November 2011.

Berdasarkan statistik, perjalanan mengggunakan pesawat atau transportasi udara lebih aman daripada moda transportasi lain pada umumnya. Sehingga dapat dikatakan maskapai lebih aman daripada penyedia jasa layanan transportasi lainnya. Idealnya, apabila seluruh maskapai di dunia ini melakukan perawatan armadanya dengan baik dan benar serta dengan kualitas yang sama, maka seluruh maskapai seharusnya memiliki tingkat keamanan yang sama. Namun pada kenyataannya, akan ada beberapa perbedaan bagaimana suatu maskapai mengatur dalam hal pelatihan kru dan teknisi, investasi untuk teknologi terbaru, perawatan pesawat, dan faktor lain yang menyebabkan sebuah maskapai lebih baik atau dirasa lebih aman daripada maskapai lainnya.

Fakta menunjukkan lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia menumpangi pesawat terbang setiap hari tanpa ada kasus apa pun. Sebagai contoh, pada tahun 2000, lebih dari satu milyar orang di seluruh dunia menggunakan jasa transportasi udara. Khusus untuk di negara Amerika Serikat sendiri, lebih sedikit penduduk yang meninggal akibat kecelakaan pesawat dalam kurun waktu 60 tahun terakhir dibandingkan dengan penduduk yang kehilangan nyawanya akibat kecelakaan mobil pada periode tiga bulan.

Jadi, seberapa aman kah naik pesawat? Istilah ‘aman’ adalah bersifat relatif, yang dari diri kita masing-masing dapat memberikan definisi yang berbeda. Memang sebuah lelucon mengatakan bahwa maskapai ‘teraman’ di dunia adalah maskapai yang tidak memiliki pesawat atau yang memiliki pesawat namun pesawatnya tidak pernah terbang.

Peter Sandman, konsultan komunikasi risiko mengatakan, “The risks that scare people and the risks that kill people are very different. When hazard is high and outrage is low (car accidents), people under-react. And when hazard is low and outrage is high (air crashes), they overreact.”


Pelajaran dibalik Penggunaan Telepon Beberapa Tahun Silam

Telepontelpon-umumTelepon kartuKartu Telepon Telkom (1)

Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga SMP (antara tahun 1990-an hingga awal 2000-an), penggunaan handphone masih belum menjamur seperti sekarang. Sebagian besar orang masih bergantung pada telepon biasa atau telepon umum sebagai sarana telekomunikasi dua arah mereka.

Istilah ‘telepon biasa’ yang saya gunakan di sini adalah telepon konvensional yang dilengkapi sebuah gagang untuk mendengar suara dan berbicara serta tombol (keypad) berukuran lebih besar daripada yang ada di handphone. Telepon yang biasa dipasang di rumah atau kantor ini harus memiliki nomor telepon khusus yang terdaftar di Telkom supaya dapat bekerja dengan semestinya.

Telepon di rumah adalah milik bersama seluruh penghuni rumah. Jika satu rumah hanya memiliki satu nomor telepon, berarti tidak mungkin dilakukan panggilan secara bersamaan ke nomor telepon tujuan yang berbeda walaupun di rumah terdapat lebih dari satu pesawat telepon. Hal yang umum terjadi ketika salah satu orang hendak menghubungi kerabat atau rekan nya sementara telepon sedang digunakan oleh penghuni lain, maka mau tidak mau orang tersebut harus sabar menunggu hingga gilirannya tiba saat telepon selesai digunakan.

Apabila kita sedang berada di luar rumah, namun ingin menelepon, kita bisa memanfaatkan fasilitas telepon umum. Jenis telepon umum pun ada yang menggunakan koin uang logam, menggunakan kartu telepon yang dijual khusus, atau berupa warung telekomunikasi (wartel). Untuk telepon koin, batas waktu melakukan panggilan tergantung jumlah nominal koin yang kita masukkan. Sedangkan untuk telepon kartu, lama waktu pembicaraan tergantung jumlah angka yang tertera pada kartu telepon yang kita miliki. Biasanya, ketika kita sudah mencapai lama waktu penggunaan tertentu kartu telepon akan berlubang dengan sendirinya sebagai tanda berapa banyak jatah waktu yang masih bisa kita gunakan kemudian. Di lain hal, wartel menggunakan sistem pasca-bayar yang berarti kita akan membayar sejumlah uang tertentu sesuai lama waktu pamakaian telepon.

Telepon umum sesuai dengan namanya berarti milik umum dan dapat digunakan siapa saja. Seperti halnya telepon biasa, penggunaan telepon umum juga tidak bisa seenaknya. Saat menggunakan telepon kita harus mengetahui situasi. Jika ada orang lain yang ingin menelepon saat kita sedang menggunakan telepon, apalagi yang mengantri tidak sedikit, kita harus memiliki sikap tenggang rasa. Kita tidak bisa menelepon terlalu lama. Seandainya ingin melanjutkan obrolan via telepon, sangat memungkinkan untuk ditunda sejenak dan dilanjutkan di lain waktu, sembari memberi kesempatan kepada pengguna yang lain (kecuali keadaan darurat).

Semasa saya masih SD, saya sering menggunakan telepon untuk beberapa hal seperti bertanya PR ke teman, mengajak teman bermain, atau meminta orang tua untuk menjemput ketika saya tidak berada di rumah. Mengingat telepon rumah milik bersama, yang akan menjawab panggilan telepon pertama kali belum tentu orang yang ingin kita ajak bicara. Oleh sebab itu, kita harus bertanya terlebih dulu untuk bisa berbicara langsung dengan orang yang kita tuju. Kalimat yang digunakan saat bertanya atau meminta izin berbicara juga harus dengan tutur kata yang baik dan sopan. Berikut adalah kalimat-kalimat yang umum digunakan ketika kita memulai pembicaraan di telepon:

“Halo, bisa bicara dengan (….)?”

“Halo, (….) nya ada?”

“Halo, benar dengan rumah/kantor (….)? Bisa bicara dengan (….)?”

Kemungkinan jawaban yang akan kita peroleh akan seperti ini:

“Ya saya sendiri”

“oh tunggu sebentar. dengan/dari siapa ini?”

“oh (….) nya sedang/lagi pergi/sibuk. ada perlu apa?”

“Maaf salah sambung”

Satu hal yang patut diingat adalah ketika itu telepon belum dilengkapi dengan penyimpan kontak. Banyak orang biasa mencatat nomor telepon di sebuah buku catatan kecil. Saat hendak menelepon pun, seseorang harus menekan tombol angka nomor telepon tujuan satu per satu. Satu saja tombol angka yang ditekan salah, pasti akan salah sambung. Ada beberapa nomor telepon yang setiap orang sering hubungi, sehingga tak jarang saat itu banyak orang mampu menghafal beberapa nomor telepon. Umumnya nomor telepon yang dihafal adalah nomor telepon rumah pribadi, kantor, rumah teman/sahabat, dan rumah kerabat/saudara.

Dengan semakin berkembang dan populernya telepon genggam atau lebih sering disebut handphone/HP, penggunaan telepon rumah atau telepon umum semakin menurun bahkan ditinggalkan. Hanya lingkungan perkantoran yang masih menggunakan telepon biasa. Saat ini sudah banyak orang yang mempunyai HP pribadi, bahkan termasuk kalangan pelajar SD hingga SMP. Asal ada pulsa, tidak perlu repot antri menunggu giliran menelepon, begitu pula ketika kita menelepon hampir tidak ada yang antri menggunakan HP kita. Bila menelepon ke nomor HP pribadi, hampir dipastikan yang akan menerima panggilan adalah sang pemilik HP, sehingga kita tidak perlu meminta izin untuk berbicara dengan orang yang kita tuju. Penyimpan kontak nomor telepon yang terdapat di HP membuat kita dengan mudah menelepon nomor yang sering dihubungi tanpa perlu menekan tombol satu per satu dan tanpa perlu dihapal.

Telekomunikasi menggunakan telepon dari rumah ke rumah semakin ditinggalkan. Telepon umum di berbagai kota di Indonesia sudah banyak yang tidak berfungsi dan hanya sekedar menjadi pajangan bahkan telah dimusnahkan. Handphone sudah menjadi alat telekomunikasi yang mampu mempermudah kehidupan banyak manusia di dunia saat ini. Bagaimanapun juga, kita sadari atau tidak, komunikasi menggunakan telepon di beberapa tahun silam bisa melatih diri kita untuk bersikap sabar, tenggang rasa, dan sopan.

Gambar disadur dari:

http://tikmantewe.wordpress.com/2010/10/12/telepon/

http://www.anatoemon.com/2012/08/telepon-umum-kartu.html

http://koleksiana.blogspot.com/2011/06/kartu-telepon-indonesia.html

220 Menit ‘Bersunyi’ dalam Gegap Gempita Malam Tahun Baru 2013

Malam pergantian tahun masehi merupakan suatu acara yang selalu dirayakan dan dinantikan sebagian besar orang di berbagai kota di dunia. Perayaan yang puncaknya terjadi pada pukul 00.00 atau tengah malam waktu setempat ini biasa dipenuhi oleh bermacam pesta, salah satu yang paling populer adalah pesta kembang api. Sebagian orang tak segan untuk keluar kediaman mereka bersama keluarga atau rekan untuk menikmati dan menunggu detik-detik pergatian tahun. Ada pula orang yang lebih memilih tetap tinggal di rumah mengadakan acara sendiri atau sekedar menyaksikan acara televisi. Saya termasuk orang yang lebih senang menikmati momen pergantian tahun di rumah. Hampir setiap tahun, malam tanggal 31 Desember saya isi dengan bersantai di rumah menonton televisi dan internet browsing. Untuk malam pergantian tahun 2013 (31 Desember 2012) pun saya tetap memilih untuk tidak meninggalkan rumah, namun kali ini saya mendapat pengalaman berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang kemudian saya ungkapkan seperti ‘bersunyi’ dalam gegap gempita malam tahun baru.

Malam 31 Desember 2012 saya hanya sendiri di rumah, ibu dan bapak sedang berada di Jakarta, sementara adik memilih untuk menghadiri acara car free night di kawasan Dago Bandung bersama teman-temannya. Waktu menunjukkan pukul 19.00 wib, saya sedang menyaksikan acara komedi The Big Bang Theory  di Warner TV. Sepuluh menit kemudian mendadak listrik di rumah saya padam, semua lampu mati begitu pun televisi dan peralatan elektronik lainnya menjadi tidak berfungsi. Seketika itu pun juga saya menengok keluar dan menyadari bahwa pemadaman listrik ini mencakup seluruh komplek kecuali satu rumah di depan rumah saya yang menggunakan genset. Bila sudah terjadi seperti ini, saya hanya bisa menunggu hingga listrik hidup kembali yang menurut pengalaman pemadaman seperti ini tidak akan berlangsung lama.

Keadaan yang gelap gulita membuat saya tidak bisa melihat apa pun di sekeliling saya untuk beberapa detik. Untung pada saat itu saya memegang ponsel saya, kemudian mode video recorder saya aktifkan untuk menyalakan flash light sehingga bisa digunakan sebagai senter. Selanjutnya saya menyalakan tablet PC milik saya yang saat itu masih menampung daya 20%, lalu saya membuka timeline twitter dan mendapatkan info bahwa terjadi kebakaran di gardu induk PLN di daerah jalan Moh. Toha, Bandung. Info selanjutnya yang didapat adalah efek dari kebakaran gardu PLN tersebut mengakibatkan pemadaman listrik tidak dapat ditanggulangi dengan cepat.

Mengetahui pemadaman listrik masih akan berlangsung lama, saya pun kemudian menyalakan sebuah lilin yang diletakkan di meja makan ruang tengah. Setelah itu saya makan malam sambil memainkan tablet PC saya. Makan malam terasa seperti candle light dinner yang dilakukan seorang diri. Daya baterai tablet PC yang semakin berkurang membuat pemakaiannya menjadi terbatas. Sinyal telekomunikasi seluler mendadak timbul dan lenyap. Seketika itu pemadaman listrik yang terjadi membuat hati kesal mengapa harus terjadi lama dan bersamaan dengan malam tahun baru.

Saya pun sadar kekesalan yang saya rasakan tidak ada manfaatnya. Akhirnya saya memutuskan untuk menunaikan ibadah sholat Isya dilanjutkan dengan berdzikir. Untuk ketenangan, dengan sengaja ponsel saya ubah ke mode silent dan tablet PC saya shutdown. Bagi saya pribadi dzikir adalah metode yang paling pas untuk menenangkan hati dan pikiran. Setuntas sholat, kemudian saya berdoa, dan selanjutnya duduk dengan memejamkan mata dan mulai berdzikir dalam hati. Keadaan rumah sangat sunyi meskipun suara kendaraan yang melintas di jalan depan dan bunyi kembang api sangat keras terdengar dari luar, pemadaman listrik menjadi tak terasa.

Seratus lima menit berlalu, saya selesai berdzikir, waktu menunjukkan pukul 21.45 wib dan listrik masih mati. Saya kemudian membaringkan badan saya di sofa ruang tengah, sesekali saya berkeliling melihat keadaan tiap ruangan. Tanpa siaran TV dan internet saya tidak tahu seperti apa liputan kegiatan malam tahun baru khususnya car free night. Tablet PC sudah lowbatt  dan sinyal operator seluler masih belum stabil menambah suasana sunyi. Seorang diri di sebuah rumah tanpa listrik dan hiburan di malam hari ibarat sedang uji nyali di tempat berhantu.

Saya mencoba merenung dan memaknai arti dibalik peristiwa mati lampu ini sambil melihat bayangan cahaya lilin di langit-langit. Sepertinya pemadaman listrik baru akan pulih esok pagi hari, sehingga saya memilih untuk mencoba tidur. Sendiri tanpa TV, internet, tablet PC, sinyal ponsel memang terasa sepi belum lagi jika kita sudah terlalu tergantung dengan hal-hal tersebut. Pemadamanan listrik yang terjadi ini telah membuat saya merasakan bagaimana hidup dalam sekian jam tanpa hiburan di malam tahun baru. Saya harus senantiasa bersyukur dengan apa yang saya punya selama ini, karena mungkin orang-orang yang tidak memiliki apa yang kita miliki bisa hidup bahagia dengan apa yang mereka miliki sekarang. Mereka bisa tidak mengeluh mengapa kita tidak bisa jika harus merasakan menjadi seperti mereka walaupun dalam kurun waktu yang singkat.

Malam semakin larut, petasan dan kembang api semakin banyak ditembakkan ke arah langit dan berbunyi dengan keras, rumah masih gelap. Sepertinya sudah pas untuk tidur dengan nyaman di sofa ruang tengah ini, namun nasib berkata lain. Pukul 22.50 listrik kembali hidup, komplek rumah kembali terang benderang, televisi dan internet menyala, sinyal operator seluler mulai stabil, meskipun tablet PC tetap dibiarkan mati. Momen pergantian tahun pun menjadi terasa spesial karena bagaimanapun juga pemadaman listrik yang terjadi telah membuat saya merasakan 220 menit bersunyi dalam gegap gempita malam tahun baru 2013.